MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
“ULKUS DIABETIKUM”
Disusun Oleh:
1. Luluk Indah Setyati P3.73.20.2.09.026
2. Maria Fransisca P3.73.20.2.09.027
3. Meta Yuni Diawati P3.73.20.2.09.028
4. Wiwit Sri Maryani P3.73.20.2.09.049
Pembimbing: Pramita Iriana, SKp. M. Biomed
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN ANESTESI
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA III
2010
Kata Pengantar
Puji syukur kelompok sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahNya sehingga kelompok dapat menyelesaikan makalah Keperawatan Medikal Bedah, dengan judul “Ulkus Diabetikum”.
Makalah ini dibuat sebagai suatu syarat dalam pemenuhan tugas Keperawatan Medikal Bedah. Kelompok juga mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Dahlia Simanjuntak, SKM, Mkes sebagai koordinator mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah
2. Ibu Pramita Iriana, SKp. M. Biomed sebagai pembimbing dalam penyusunan makalah ini
3. Teman-teman serta pihak-pihak yang telah membantu kelompok dalam penyusunan makalah ini.
Kelompok mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar kelompok kami dapat menyusun makalah yang lebih sempurna. Semoga dengan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Jakarta, September 2010
Kelompok
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penderita diabetes melitus mengalami gangguan metabolisme karbohidrat yang rentan terhadap serangkaian komplikasi kronis yang menyebabkan kematian dan kesakitan prematur. Jika tidak dikendalikan dengan baik, penderita diabetes melitus dapat mengalami beberapa komplikasi secara bersamaan pada organ-organnya atau satu masalah yang mendominasi, yang meliputi kelainan vaskuler, retinopati, nefropati diabetik, neuropati diabetik dan ulkus kaki diabetik.
Adanya kuman saprofit pada ulkus menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati perifer. Kurangnya perawatan pada ulkus diabetikum menyebabkan luka tersebut semakin meluas dan membuat urat saraf menjadi rusak sehingga membuat rasa nyeri hilang atau baal .
B. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui penyebab dan manifestasi klinik dari ulkus diabetikum
2. Dapat melaksanakan perawatan terhadap pasien yang terkena penyakit ulkus diabetikum
C. Rumusan Masalah
1. Apa penyebab dari ulkus diabetikum ?
2. Bagaimana ulkus diabteikum dapat terjadi pada penderita diabetes mellitus?
3. Manifestasi klinik dari ulkus diabetikum?
4. Bagaimana cara perawatan dan pencegahan dari penyakit ulkus diabetikum ?
D. Metode Penulisan
Penulisan makalah ini , kelompok menggunakan metode deskriptif yaitu:
1. Studi literatur dengan membaca buku di perpustakaan yang terkait dengan judul makalah.
- Membaca catatan perkuliahan harian yang terkait dengan mata ajar Keperawatan Medikal Bedah.
- Referensi dari internet
E. Sistematika Penulisan
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Ruang Lingkup Penulisan
D. Metode Penulisan
E. Sistematika Penulisan
BAB II ISI
A. Definisi
1. Definisi Ulkus
2. Definisi Ulkus Diabetikum
B. Patofisiologis
C. Etiologi Ulkus Diaabetikum
1. Neuropati Diabetik
2. Angiopati Diabetik
3. Infeksi
D. Manifestasi Klinis Ulkus Diabetikum
E. Pencegahan Ulkus Diabetikum
F. Perawatan dan Pengobatan Ulkus Diabetikum
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
ISI
A. Definisi
1. Definisi Ulkus
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan kematian jaringan yang luas disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati perifer.
2. Definisi Ulkus kaki diabetic
Ulkus kaki diabetes (UKD) merupakan komplikasi yang berkaitan dengan morbiditas akibat diabetes mellitus. Ulkus kaki diabetes merupakan komplikasi serius akibat diabetes.
B. Patofisiologi
Apabila kadar glukosa darah penderita diabetes tinggi dalam jangka waktu yang lama, maka akan timbul komplikasi menahun (kronis yang mengenai mata menyebabkan gangguan penglihatan, bila mengenai sistem syaraf akan menyebabkan gangguan sensitivitas dan gangguan bila mengenai ginjal menyebabkan gangguan fungsi ginjal).
Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan pembuluh darah, gangguan saraf, dan adanya infeksi. Pada gangguan pembuluh darah, kaki bisa terasa sakit, jika diraba terasa dingin, jika ada luka sukar sembuh karena aliran darah ke bagian tersebut sudah berkurang. Pemeriksaan nadi pada kaki sukar diraba, kulit tampak pucat atau kebiru-biruan, kemudian pada akhirnya dapat menjadi gangren/jaringan busuk, kemudian terinfeksi dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena infeksi bisa menjalar ke seluruh tubuh (sepsis). Ulkus berbentuk bulat biasa berdiameter lebih dari 1 cm berisi massa jaringan tanduk lemak, pus, serta krusta di atas.
Gangguan saraf autonom mengakibatkan hilangnya sekresi kulit sehingga kulit kering dan mudah mengalami luka yang sukar sembuh. Infeksi dan luka ini sukar sembuh dan mudah mengalami nekrosis akibat dari tiga faktor:
1. Angiopati arteriol
Menyebabkan perfusi jaringan kaki kurang baik sehingga mekanisme radang jadi tidak efektif.
2. Lingkungan gula
Darah yang subur untuk perkembangan bakteri patogen.
3. Terbukanya pintas arteri-vena di subkutis
Aliran nutrien akan memintas tempat infeksi di kulit. Kaki diabetik adalah kaki yang perfusi jaringannya kurang baik karena angiopati dan neuropati. Selain itu, terdapat pintas arteri-vena di ruang subkutis sehingga kaki tampak merah dan mungkin panas tetapi pendarahan kaki tetap kurang (R. Sjamsuhidajat, 2004; 483-484).
Tingkatan ulkus diabetikum yaitu :
| Tingkat Ulkus | Tanda dan gejala |
| 0 | tidak ada luka |
| I | merasakan hanya sampai pada permukaan kulit |
| II | kerusakan kulit mencapai otot dan tulang |
| III | terjadi abses |
| IV | gangren pada kaki, bagian distal |
| V | gangren pada seluruh kaki dan tungkak bawah distal |
C. Etiologi Ulkus Diabetik
Beban yang diterima pada telapak kaki akan merangsang pembentukan kalus. Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu:
1. Teori sorbitol
Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi.
2. Teori Glikosilasi
Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskuler.
Adapun gambaran luka pada penderita diabetes dapat berupa:
1. demopati (kelainan kulit berupa bercak-bercak bitam di daerah tulang kering)
2. selulitis (peradangan dan infeksi kulit)
3. nekrobiosisi lipiodika diabetik (berupa luka oval, kronik, tepi keputihan)
4. osteomielitis (infeksi pada tulang)
5. gangren (lika kehitaman dan berbau busuk).
Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya ulkus diabetik, yaitu :
1. Neuropati diabetic
Adalah kelainan urat saraf akibat DM karena kadar dalam darah tinggi yang bisa merusak urat saraf penderita dan menyebabkan hilang atau menurunnya rasa nyeri pada kaki sehingga apabila penderita mengalami trauma kadang-kadang tidak terasa. Keadaan ini diperkirakan merupakan hasil dari cedera mikrovaskuler pada diabetes yang melibatkan pembuluh-pembuluh darah kecil yang menyuplai sel-sel saraf (vasa nervorum). Keadaan yang umum dihubungkan dengan neuropati diabetik termasuk third nerve palsy, mononeuropati, amiotrofi diabetes, polineuropati, neuropati autonomik, dan neuropati torakoabdominal. Neurophaty merupakan risiko komplikasi yang paling menonjol ekstremitas bawah.
Neuropati mempengaruhi saraf-saraf, yang meliputi:
a. Saraf sensori untuk menerima rasa-rasa seperti panas, nyeri atau sentuhan.
b. Motor saraf yang mengendalikan otot-otot bergerak
c. Saraf otonom yang mengendalikan fungsi otomatis seperti tekanan darah, denyut jantung, fungsi pencernaan dan kandung kemih
Gejala-gejala Neuropati:
| 1) Sensasi tertusuk atau nyeri | 2) Anorgasmia |
| 3) rasa tebal ditelapak kaki | 4) kontraksi otot |
| 5) Kurangnya koordinasi | 6) susah bicara |
| 7) Kram | 8) Disfagia |
| 9) Kelemahan otot atau kelumpuhan jika saraf motorik terpengaruh | 10) penglihatan berkurang |
| 11) Kelemahan otot atau kelumpuhan jika saraf motorik terpengaruh | 12) Mati rasa dan kesemutan di kaki atau tangan yang dapat menyebar ke atas ke kaki dan tangan |
| 13) Sensasi terbakar | 14) kelemahan otot |
Ada 4 faktor yang diperkirakan terlibat dalam terjadinya neuropati diabetik, yaitu penyakit mikrovaskuler, advanced glycation endproduct (AGE), protein kinase C, dan jalur polyol (polyol pathway)
a. Penyakit Mikrovaskuler
Penyakit vaskuler dan neural sangat berhubungan satu sama lain. Kerja pembuluh darah tergantung pada sistem saraf yang mengaturnya, dan sistem saraf juga tergantung pada aliran darah yang adekuat. Perubahan patologis pertama yang terjadi pada penyakit mikrovaskuler adalah vasokonstriksi. Semakin berkembangnya kerusakan, disfungsi neural berjalan seiring perkembangan kerusakan pembuluh, seperti penebalan membran kapiler, hiperplasia endotel, yang berimbas pada berkurangnya tekanan oksigen dan hipoksia. Iskemik neural adalah kharakteristik dari neuropati diabetik. Agen vasodilator dapat memperbaiki aliran darah neural, yang akan berdampak pada membaiknya kecepatan konduksi saraf tersebut.
b. Advanced Glycation Endproduct (AGE)
Meningkatnya kadar glukosa intrasel akan menyebabkan ikatannya dengan protein, yang mana akan merusak struktur dan fungsinya. Protein-protein yang ter-glikosilasi ini telah dihubungkan dengan patofisiologi terjadinya neuropati diabetik dan komplikasi-komplikasi diabetes jangka panjang lainnya.
c. Protein Kinase C (PKC)
Meningkatnya kadar glukosa akan menyebabkan peningkatan diasilgliserol intrasel, yang akan mengaktifkan PKC. PKC akan menurunkan kecepatan konduksi saraf dengan cara menurunkan aliran darah neural.
d. Jalur Polyol (Polyol Pathway)
Disebut juga Jalur Sorbitol/ Aldose Reduktase, Jalur Polyol berperan dalam komplikasi diabetes dan menyebabkan kerusakan mikrovaskuler jaringan saraf, juga pada retina dan ginjal di mana banyak terdapat mikrovaskuler itu sendiri. Tingginya kadar glukosa dalam darah akan mengaktifkan jalur biokimia yang akan menyebabkan peningkatan jumlah sorbitol dan radikal oksigen, serta penurunan jumlah nitric oxide dan glutation, dan mengakibatkan stres osmotik pada membran sel.
2. Angiopati Diabetik (Penyempitan pembuluh darah)
Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. Pembuluh darah besar atau kecil pada penderita DM mudah menyempit dan tersumbat oleh gumpalan darah. Apabila sumbatan terjadi di pembuluh darah sedang/ besar pada tungkai maka tungkai akan mudah mengalami gangren diabetik yaitu luka pada kaki yang merah kehitaman dan berbau busuk. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adapun angiopati menyebabkan asupan nutrisi, oksigen serta antibiotik terganggu sehingga menyebabkan kulit sulit sembuh ( Levin,1993 ).
3. Infeksi
Sering merupakan komplikasi akibat berkurangnya aliran listrik (neoropati). Faktor-faktor lokal juga menyebabkan kecenderungan pasien DM mudah infeksi yaitu: hiperglikemia memberi kecenderungan infeksi bakteri dan fungi pada pasien DM. Insufisiensi vaskuler dan hipoksia jaringan menyebabkan pertumbuhan organisme anaerob, terbatasnya mekanisme pertahanan tubuh; neuropati menyebabkan gangguan distribusi tekanan, yang berperan pada infeksi dan ulserasi pada kaki. Pada kandung kemih neuropati menyebabkan atoni buli-buli yang menyebabkan retensi urinaria yang cenderung bakteriuria.
D. Manifestasi Klinis Ulkus Diabetik
Gangren diabetik akibat mikroangiopatik disebut juga gangren panas karena walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan, dan biasanya teraba pulsasi arteri di bagian distal. Biasanya terdapat ulkus diabe
tik pada telapak kaki.
tik pada telapak kaki.
Tanda dan gejala Ulkus Diabetikum Gangren diabetik akibat mikroangiopatik disebut juga gangren panas karena walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan, dan biasanya teraba pulsasi arteri di bagian distal. Biasanya terdapat ulkus diabetik pada telapak kaki.
Proses makroangiopati menyebabkan sumbatan pembuluh darah, sedangkan secara akut emboli akan memberikan gejala klinis 5 P, yaitu :
a. Pain (nyeri)
b. Paleness (kepucatan)
c. Paresthesia (parestesia dan kesemutan)
d. Pulselessness (denyut nadi hilang)
e. Paralysis (lumpuh)
f. kadang ditambah P ke 6 yaitu “prostration” = kelesuan
Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola dari Fontaine, yaitu 4 :
| Stadium | Tanda dan gejala |
| I | Asiptomatik atau gejala tidak khas (kesemutan,geringgingan) |
| II | Klaudikasio intermiten (shg jarak tempuh pendek) |
| III | Nyeri saat istirahat |
| IV | Manifestasi kerusakan jaringan karena anoksia (sekresi,ulkus) |
Derajat kelainan kaki diabetes (Wagner)
| Derajat | Sifat |
| Luka/tukak abses selulitis osteomielitis gangrene | |
| 0 I II III IV V | - - - - - superficial - - - - dalam sampai - - - - tendon/tulang dalam + +/- +/- - dalam +/- +/- +/- jari gangrene seluruh kaki |
E. Pencegahan Ulkus Diabetikum
Kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi pada penderita DM akibat gangguan pembuluh darah maupun syarafnya, maka perlu dilakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi luka, sebagai berikut:
1. Penderita harus mencuci kakinya setiap hari dengan teratur, sesudah dicuci dikeringkan dengan seksama (terutama pada sela-sela jari kaki)
2. Dapat dipakai bedak atau lotion.
3. Pada penderita dengan komplikasi kronis DM, sebaiknya jangan menggunakan
air hangat atau air panas untuk merendam kaki, oleh karena kepekaan rasa di kaki
untuk panas berkurang sehingga penderita tidak merasakan apa-apa, walaupun kaki
nya melepuh.
air hangat atau air panas untuk merendam kaki, oleh karena kepekaan rasa di kaki
untuk panas berkurang sehingga penderita tidak merasakan apa-apa, walaupun kaki
nya melepuh.
4. Apabila penderita merasa kakinya dingin, sebaiknya memakai kaos kaki, Sebaiknya memilih kaos kaki yang bahannya wol atau katun. Kaos kaki tersebut sebaiknya juga dipakai sewaktu tidur.
5. Apabila memakai sepatu atau sandal, perlu diperiksa apakah alas kakinya licin dan rata.
6. Apabila membeli sepatu baru, sebaiknya diperhatikan: sepatu jangan terlalu sempit, sebaiknya sepatu yang kulitnya lemas, pada awalnya sepatu tersebut dipakai beberapa jam saja, untuk membiasakan diri.
7. Pada penderita DM yang mengalami gangguan syaraf sebaiknya jangan berjalan tanpa alas kaki, karena dapat terkena luka tanpa penderita menyadarinya.
8. Sela-sela jari kaki perlu diperiksa, apakah terdapat luka atau kulit yan g pecah-pecah, yang disebabkan oleh jamur kaki. Bila ada, cepat pergi ke dokter untuk diobati.
F. Penanganan Ulkus Diabetikum
Penanganan ulkus diabetik dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan, yaitu :
1. Tingkat 0 (tidak ada luka)
Penanganan meliputi edukasi kepada pasien tentang alas kaki khusus dan pelengkap alas kaki yang dianjurkan. Sepatu atau sandal yang dibuat secara khusus dapat mengurangi tekanan yang terjadi. Bila pada kaki terdapat tulang yang menonjol atau adanya deformitas, biasanya tidak dapat hanya diatasi dengan penggunaan alas kaki buatan umumnya memerlukan tindakan pemotongan tulang yang menonjol (exostectomy) atau dengan pembenahan deformitas.
2. Tingkat I (merasakan hanya sampai pada permukaan kulit)
Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius, perawatan lokal luka dan pengurangan beban.
3. Tingkat II (kerusakan kulit mencapai otot dan tulang)
Memerlukan debridemen, antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur,perawatan lokal luka dan teknik pengurangan beban yang lebih berarti.
4. Tingkat III (terjadi abses)
Memerlukan debridemen jaringan yang sudah menjadi gangren, amputasi sebagian, imobilisasi yang lebih ketat, dan pemberian antibiotik parenteral yang sesuai dengan kultur.
5. Tingkat IV(gangren pada kaki, bagian distal)
Pada tahap ini biasanya memerlukan tindakan amputasi sebagian atau amputasi seluruh kaki. Pengobatan dan perawatan ulkus dilakukan dengan tujuan pada penyakit yang mendasar dan terhadap ulkusnya sendiri yaitu :
a. Usahakan pengobatan dan perawatan ditujukan terhadap penyakit terhadap
penyakit kausal yang mendasari yaitu DM.
penyakit kausal yang mendasari yaitu DM.
b. Usaha yang ditujukan terhadap ulkusnya antara lain dengan antibiotika atau kemoterapi. Pemberian luka dengan mengompreskan ulkus dengan larutan klorida atau larutan antiseptik ringan. Misalnya rivanol dan larutan kalium permanganat 1:500 mg dan penutupan ulkus dengan kassa steril. Alat-alat ortopedi yang secara mekanik yang dapat merata tekanan tubuh terhadap kaki yang luka. Amputasi mungkin diperlukan untuk kasus DM
c. penanganan kaki diabetik kurang intensif / kurang hati hati, maka akan menimbulkan ketoasidosis diabetic
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Riwayat Pengkajian
1. Kaji tandadan gejala:
| Stadium | Tanda dan Gejala |
| I | Asiptomatik atau gejala tidak khas (kesemutan,geringgingan) |
| II | Klaudikasio intermiten (shg jarak tempuh pendek) |
| III | Nyeri saat istirahat |
| IV | Manifestasi kerusakan jaringan karena anoksia (sekresi,ulkus) |
2. Kaji riwayat nyeri yang berhubungan dengan ulkus, misalnya hal yang mengindikasikan terjadinya iskemia
3. Kaji ulkus:
Menurut ADA (The American Diabetes Association) rekomendasi penilaian luka dengan evaluasi yang sistematik yang meliputi pertanyaan sebagai berikut:
a. Kaji apakah pasien mengalami trauma atau tidak dan ada tidaknya ulcer dari tembusan trauma, trauma yang tumpul atau terbakar
b. Kaji sejak kapan mulai terjadi ulkus untuk menentukan ulkus kronik atau akut
c. Kaji penyebab peningkatan tanda dan gejala lokal atau sistemik
d. Kaji apakah pasien mempunyai perawatan luka prioritas atau lanjutan dan pengobatan yang telah dilakukan
e. Sebagai tambahan,kontrol glukosa darah dan kombinasi harus dievaluasi. Pengkajian klinikal harus mengidentifikasi:
1) Tanda dari iskemia- aliran darah yang adekuat untuk menyembuhkan luka
2) Tanda pada jaringan halus atau infeksi tulang- bau yang tidak enak, cellulitis, abses, atau osteomyelitis
3) Kedalaman luka- meliputi callus, jaringan devitalis, jaringan granulasi, drainase,eschar, atau nekrosis.
4. Pengkajian diabetik sangat penting untuk mengetahui peningkatan resiko infeksi akibat hyperglicemia
5. Pengkajian pada kaki akan memperjelas adanya iskemia atau neurophati serta derajat ulkus yang diderita oleh pasien
6. Kaji kultur pus untuk mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.
Nadi yang menurun. Kulit panas, kering, dan kemerahan; bola mata cekung. c. Intergitas ego 1) Gejala : Stres; tergantung pada orang lain. Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi. 2) Tanda : Ansietas, peka rangsang. d. Eliminasi 1) Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia. Rasa nyeri, terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), Nyeri tekan abdomen diare. 2) Tanda : Urine encer, pucat, kuning; poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria/ anuria jika terjadi hipovolemia berat). 3) Urine berkabut, bau busuk (infeksi). Abdomen keras, adanya asites. Bising usus lemah dan menurun; hiperakif (diare). e. Makanan dan cairan 1) Gejala : Hilang napsu makan, mual/ muntah. Tidak mengikuti diet; peningkatan masukan glukosa/ karbohidrat. Penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/ minggu. Haus. Penggunaan diuretik (tieald). 2) Tanda : Kulit kering/ bersisik, turgor jelek. Kekakuan/ distensi abdomen, muntah. Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan
metabolik dengan peningkatan gula darah). Bau halitosis/ manis, bau buah (napas aseton). f. Neurosensori 1) Gejala: Sakit kepala. Kesemutan, kelemahan pada otot, parestesia. Gangguan penglihatan.
g. Tanda : Disorientasi; mengantuk, letargi, stupor/ koma (tahap lanjut). Gangguan memori (baru, masa lalu); kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD) menurun (koma), kejang. h. Nyeri atau kenvamanan 1) Gejala : Abdomen yang tegang/ nyeri (sedang/ berat). 2) Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati. i. Pernapasan 1) Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/ tidak). 2) Tanda : Batuk, dengan/ tanpa sputum purulen (infeksi). Frekuensi pernapasan. j. Keamanan 1) Gejala : Kulit kering. gatal; ulkus kulit. 2) Tanda : Demam, diaforesis. Kulit rusak, lesi/ ulserasi. Menurunnya kekuatan umum/ rentang gerak Parestesia/ paralisis otot termasuk otototot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam). k. Seksualitas 1) Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada pria; kesulitan orgasme pada wanita. l. Penyuluhan atau pembelajaran 1) Gejala : Faktor risiko keluarga; DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang lambat. Penggunaan obat seperti steroid, diuretik (tiazid); Dilantin dan fenobarbital (dapat
meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan. 2) Rencana pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.
B. Diagnosa keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan perubahan kondisi metabolic
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi
4. Kurang pengetahuan mengenai tanda dan gejala penyakit berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
C. Rencana Keperawatan Rencana Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit b/d perubahan kondisi metabolic
Kriteria Hasil:
a. terjadinya perbaikan status metabolic
b. bebas dari drainase purulen dalam 48 jam
c. menunjukkan tanda-tanda penyembuhan dengan tepi luka bersih
Intervensi:
a. Dapatkan kultur dari drainase luka saat masuk.
Rasional: Mengidentifikasi patogen dan terapi pilihan.
b. Berikan dikloksasilin 500 mg per oral setiap 6 jam, mulai jam 10 malam. Amati tanda-tanda hipersensitivitas, seperti; ruritus, urtikaria, ruam.
Rasional: Pengobatan infeksi/ pencegahan komplikasi.
c. Rendam kaki dalam air steril pada suhu kamar dengan larutan Betadine tiga kali sehari selama 15 menit.
Rasional: Germisidal lokal efektif untuk luka permukaan
d. Kaji area luka setiap kali mengganti balutan.
Rasional: Memberikan informasi tentang efektivitas terapi dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan tambahan
e. Pijat area sekitar nisi luka.
Rasional: Merangsang sirkulasi dan mengalirkan sel darah putih, fibroblas, dan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan dan membuang debris yang terfagositasi
f. Balut luka dengan kasa kering steril.
Rasional: Menjaga kebersihan luka/ meminimalkan kontaminasi silang.
g. Berikan 15 unit insulin Humulin N SC pada pagi hari setelah contoh darah harian diambil.
Rasional: Mengobati menurunkan disfungsi metabolik dan yang mendasari, meningkatkan hiperglikemia
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Kriteria Hasil:
a. kebutuhan nutrisi terpenuhi
b. mendemontrasikan berat badan stabil.
Interversi:
a. Catat status nutrisi klien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan, integritas mukosa oral, kemampuan/ ketidakmampuan menelan, adanya tonus usus, riwayat mual/ muntah atau diare.
Rasional: Berguna dalam mendefinisikan derajat/ luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
b. Pastikan pola diet biasa klien, yang disukai/ tak disukai.
Rasional: Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan/ kekuatan khusus.
c. Awasi masukan/ pengeluaran dan berat badan secara periodik.
Rasional: Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
d. Selidiki anoreksia, mual, dan muntah dan catat kemungkinan hubungan dengan obat. Awasi frekuensi, volume. konsistensi feces.
Rasional: Dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan/ penggunaan nutrient.
e. Dorong dan berikan periode istirahat sering.
Rasional: Membantu menghemat energi khususnya kebutuhan metabolik meningkat saat demam.
f. Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan perawatan.
Rasional: Menurunkan rasa tak enak karena sisa sputum atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah.
g. Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat Rasional: Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/ kebutuhan energi dari makan makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster.
h. Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan klien kecuali kontraindikasi.
Rasional: Membuat lingkungan sosial lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural.
i. Berkolaborasi Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional : Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
j. Konsul dengan terapi pernapasan untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum/ setelah makan.
Rasional : Dapat membantu menurunkan insiden mual dan muntah sehubungan dengan obat atau efek pengobatan pernapasan pada perut yang penuh.
k. Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh BUN, protein serum, dan albumin.
Rasional: Nilai rendah menunjukkan kebutuhan malnutrisi dan menunjukkan program terapi intervensi/ perubahan
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi.
Kriteria Hasil:
a. mengidentifikasi intervensi unuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi
b. mendemontrasikan teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.
Intervensi:
a. Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan, seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen, urine warna keruh atau berkabut.
Rasional: Klien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
b. Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan klien termasuk kliennya sendiri.
Rasional: Mencegah nasokomial.
c. Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif (seperti pemasangan infus, kateter Folley dan sebagainya), pemberian obat intravena dan memberikan perawatan pemeliharaan. Lakukan pengobatan melalui IV sesuai indikasi.
Rasional: Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
d. Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh masase daerah tulang yang tertekan jaga kulit tempat kering.
Rasional: Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan klien pada peningkatan risiko terjadinya kerusakan pada kulit/ iritasi kulit dan infeksi.
e. Posisikan klien pada posisi semi-fowler.
Rasional: Memberikan kemudahan hagi paru untuk berkembang; menurunkan risiko terjadinya aspirasi.
f. Anjurkan untuk makan dan minum adekuat (pemasukan makanan dan cairan yang adekuat) (kira-kira 3000 ml/ hari jika tidak ada kontraindikasi)
Rasional: Menurunkan kemungkinan terjadinya infeksi.
g. Berkolaborasi berikan obat antibiotik yang sesuai.
Rasional: Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.
4. Kurang pengetahuan mengenai tanda dan gejala penyakit berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
Kriteria Hasil:
a. mengungkapkan pemahaman tentang penyakit
b. mengidentifikasi hubungan, tanda, gejala dengan proses penyakit dan dengan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab.
Intervensi:
a. Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian, dan selalu ada untuk klien.
Rasional : Menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum klien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar.
b. Bekerja dengan klien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan.
Rasional: Partisipasi dalam perencanaan meningkatkan antusias dan kerja sama klien dengan prinsip-prinsip yang dipelajari.
c. Diskusikan topik-topik utama seperti: Apakah kadar glukosa normal itu dan bagaimana hal tersebut dibandingkan dengan kadar gula darah klien, tipe DM yang dialami klien, huhungan antara kekurangan insulin dengan kadar gula darah yang tinggi.
Rasional: Memberikan pengetahuan dasar di mana klien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.
d. Diskusikan tentang rencana diet penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan di luar rumah.
Rasional : Kesadaran tentang pentingnya kontrol diet akan membantu klien dalam merencanakan makan mentaati program.
5. Tinjau kembali pemberian insulin oleh klien sendiri dan perawatan terhadap peralatan yang digunakan.
Rasional: Mengidentifikasikan pemahaman dan kebenaran dari prosedur atau masalah yang potensial dapat terjadi (seperti penglihatan, daya ingat dan sebagainya) sehingga solusi alternatif dapat ditentukan untuk pemberian insulin tersebut.
6. Instrusikan pentingnya pemeriksaan secara rutin pada kaki dan perawatan kaki tersebut.
Rasional : Mencegah/ mengurangi komplikasi yang
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada penderita diabetes militus mudah terjadi ulkus diabetikum yang diakibatkan oleh hiperglikemia. Ulkus merupakan luka terbuka yang terdapat selaput lendir dan kematian jaringan yang meluas disertai invasive kuman saprofit sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Ulkus disebabkan oleh tiga factor, yaitu : neuropati, angiopati dan infeksi. Pada neuropati, ulkus disebabkan karena kerusakan pada saraf yang mengakibatkan kehilangan / penurunan rangsangan. Pada angiopati, ulkus disebabkan karena menyempit atau tersumbatnya pembuluh darah oleh gumpalan darah sedangkan pada infeksi
B. Saran
Daftar Pustaka
Doengoes Marilynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Engram Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta: EGC
Morison Moya J. 2003. Manajemen Luka. Jakarta: EGC
Referensi Internet